Analisa Lirik – The Looking Glass

looking

I would not expect you felt alone in standing north
Better to rise above the clouds Then be a stranger in the crowd
All that you protected doesn’t matter anymore
Rather be stripped of all your pride
Than watch your dreams be cast aside

You are caught up in your gravity
Glorifying stardom
Singing your own praise

You live without shame
You’re digging up a gold mine
Standing on the sidelines
Watching through the looking glass

Kita melihat seseorang yang sangat berambisi untuk menjadi pusat perhatian.
Yang dia lakukan untuk mencapai ketenarannya membuatnya tidak mempedulikan semua seharusnya dia jaga.
Dia lebih memilih kehilangan harga dirinya daripada impiannya tidak tercapai.
Orang itu mengagungkan dirinya dan ketenarannya seakan seorang.
Tanpa ada rasa malu, dia meraup keuntungan dari ketenarannya.

 

You are not content with being nameless and unknown
Trying to rise above the fray
Eager to give it all away

Some will not admit that 15 minutes have expired
Too much attention much too soon
Don’t see you walking on the moon

You are caught up in your gravity
Bathing in the spotlight
Imitating fame

You live without shame
You’re digging up a gold mine
Standing on the sidelines
Watching through the looking glass

Orang itu tidak puas jika dirinya bukan siapa-siapa dan tidak dikenal.
Namun, dia mau mengorbankan apa saja untuk menjadi bintang.
Tanpa dia sadari, masa ketenarannya sudah berakhir hanya sebentar. Meskipun dia tidak mengakuinya.
Orang lebih melihat hal lain yang kini menjadi pusat perhatian. Dia bukan siapa-siapa lagi.

 

The Looking Glass menyinggung isu ambisi orang untuk menjadi terkenal dengan instan. Ada yang bekerja keras, ada juga yang memilih jalan singkat. Dengan era media sosial dengan mudahnya hal itu tercapai dengan membuat video atau hal lainnya. Terkadang orang melupakan harga dirinya untuk mencapai ketenaran yang pada ujungnya tidak bertahan lama. Hanya menjadi sensasi sesaat saja. Kita bisa melihat banyak fenomena bintang instan terjadi. Bahkan di negara sendiri. Orang-orang berlomba menjadi bintang yang berlangsung hanya sesaat. Gosip-gosip buruk melanda para selebriti yang justru menjadi mereka lebih terkenal, namun hanya bertahan sebentar karena akan muncul gosip-gosip baru lagi.

Review Album ‘Dream Theater’ Dari DTNorway Bagian 2

 

Dibagian ke dua ini akan lebih dijelaskan mengenai ulasan per lagu.

 

False Awakening Suite

Instrumental pendek yang senada dengan bagian “Overture” di lagu “Six Degree Of Inner Turbulence”. Sangat simfonis dengan gitar yang heavy, choir, dan orkestra. Bernuansa neo classic metal seperti lagu Oculus ex Inferni dari Symphony X. Meskipun durasinya pendek, lagu ini memiliki 3 bagian yang masing-masingnya sangat teridentifikasi dengan jelas

 

The Enemy Inside

Riff dan pattern drum yang cepat. Banyak perubahan rhythm dan riff di menit awalnya. Lagu yang sangat enerjik, dengan riff yang kuat dan chorus yang memorable

 

The Looking Glass

Track ini sangat mengingatkan kepada rock era 80an yang sangat anthemic. Dengan struktur yang standar, lagu ini sangat terinspirasi dari Rush. Lagu yang mengingatkan akan Innocence Fade + Raise The Knife namun dengan tempo yang lebih cepat.

 

Enigma Machine

Lagu instrumental. Bisa dibilang ibarat bagian instrumental dari lagu The Ministry of Lost Souls atau A Nightmare To Remember diambil dan dipisahkan lalu dijadikan sebuah lagu. Terdapat berbagai macam style dan rhythm. Ada beberapa bagian di awal, lalu di tengah terdapat bagian solo gitar dan keyboard yang cepat, lalu bass solo yang melanjutkan ke bagian yang lebih lambat namun emosional. Banyak perubahan tempo dan polyrhythms.

 

The Bigger Picture

Intro yang heavy dan dilanjutkan dengan piano dan vokal yang ballad. James sangat berinar dengan melodi yang emosional. Piano dan akustik gitarnya sangat baik. Ini lagu prog metal ballad yang sempurna. Chorus yang sangat menggelegar dan bombastic dan salah satu yang terbaik dari Dream Theater. Ibarat chorus lagu The Ministry of Lost Souls dimana vokal James terdengar sanga grand!

 

Behind The Veil

Intro suara ambient dan dilanjutkan dengan riff Metallica! Lagu yang heavy dengan penuh groove. Chorus sedikit cheesy, tetapi lagu ini diakhiri dengan solo yang sangat luar biasa. Lagu ini cukup lurus-lurus saja, salah satu lagu mainstream metal dari Dream Theater.

 

Surrender To Reason

Lagu ini juga sangat terinspirasi dari Rush. Dari semua lagu Dream Theater yang terinspirasi Rush, lagu ini yang paling mendekati. Perubahan chord dan time sig yang menarik dan style old school prog rock dengan organ.  Meskipun hanya 6 menit, lagu ini sangat merepresentasikan prog metal. Banyak perubahan, sangat bercerita melalui melodi dan musik. Solonya bukan tipikal solo John Petrucci, sangat old school tapi sangat menarik.

 

Along For The Ride

Lagu ini sedikit senada dengan Beneath The Surface dan Wither namun lebih enerjik dengan distorsi gitar dan double bass drum. Jadi bisa dibilang berada diantara ballad dan prog metal ballad.

 

Illumination Theory

Lagu terpanjang berdurasi 19 menit. 3 menit terakhir merupakan tambahan. Sehingga totalnya 22 menit.

Lagu ini terdiri dari 5 bagian. Bagian pertama (Paradoxe de la Lumière Noire), Symphonic prog metal intro yang apik dan build up dengan pelan. Berbagai riff gitar dengan backsound choir dan organ.

Bagian kedua (Live, Die, Kill) terdapat sebuah drum fill seperti sebuah mini drum solo. Bagian vokal diiringin dengan riff gitar yang sangat groovy.

Bagian ketiga (The Embracing Circle) sangat berbeda. Masuk ke dalam bagian yang penuh ambient. Bunyi-bunyi aneh. Tidak ada instrumen hanya orchestra saja. Seperti sebuah score dalam film romanits.

Bagian keempat (The Pursuit of Truth) terdapat bagian vokal yang staccato. Juga terdapat bagian piano dan drum yang luar biasa. Bagian instrumental gila ini menunjukkan bagaimana drum dan piano bisa bersatu dengan sangat baik.

Bagian kelima (Surrender, Trust & Passion). Bagian penutup yang bernuansa bahagia dan anthemic dimana bisa bernyanyi bersama dan diakhiri dengan gitar solo.

 

Kesimpulan

Album ini mungkin bukan yang terbaik. Tetapi album ini sangat bervariasi, dan lebih fokus ke masing-masing lagu tanpa harus memaksakan berbagai macam ide seperti di album-album sebelumnya.

 

 

Review Album ‘Dream Theater’ Dari DTNorway Bagian 1

 

Jika sebelumnya sudah ada beberapa ulasan dari pihak media yang sudah pernah mendengarkan album baru ini terlebih dahulu, maka kali ini ada sebuah review yang ditulis oleh seorang penggemar. Seseorang itu adalah pengurus fan club resmi Norwegia atau DTNorway. Beliau terlibat cukup banyak kegiatan official fan club internasional. Salah satunya adalah sebagai produser dan sutradara DVD A Walk Beside The Band. Ulasan dari seorang penggemar pastinya akan lebih personal dibandingkan ulasan dari media. Namun tentu saja dengan semakin personal pasti akan semakin subjektif dari pandangannya. Di artikel ini saya akan berusaha mengambil intisari dari ulasannya dan menerjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia.

 

 

Seperti yang sudah pernah dijelaskan sebelumnya, album ini lebih heavy, lebih simfonis, dan sinematis. Sangat berbeda dari album sebelumnya. Banyak hal yang baru namun masih familiar. Dalam pertama kali mendengarkan terasa sedikit janggal. Ibarat pertama kali mengenakan sepatu baru. Setelah berjalan beberapa waktu akan terasa familiar dan cocok. Album ini perlu didengarkan beberapa kali agar rasa “janggal” itu hilang. ‘Dream Theater’ bukanlah A Dramatic Turn of Events 2. Album ini lebih imbang dan lebih berat meskipun bukan album terberat mereka. Album ini lebih tepat dikatakan sebagai album yang “kuat”, “kencang”, “agresif  dan emosional”, “sinematis dan megah”. Kemungkinan kalimat yang terbaik untuk mendeskripsikan album ini adalah “album dengan sound seperti Sytematic Chaos dan Black Clouds namun dengan songwritting dan struktur seperti Images and Words dan Awake”

Album ini lebih mudah diterima orang. Mungkin bisa saja disebut lebih mainstream. Meskipun demikian, para penggemar yang berharap musik dengan teknikal dan kompleksitas tinggi akan mendapatkannya di beberapa bagian album ini.  Berbagai macam style ada di album ini. Heavy metal, power ballad, instrumental yang teknikal, lagu yang besar dan bombastis. Dikarenakan durasi lagu-lagu yang tidak terlalu panjang, style dan emosi lebih terfokus ke masing-masing lagu saja. Tidak terjadi banyak percampuran emosional.

Secara suara, album ini sangat gitar oriented. Suara gitar cukup terdepan dan kuat. Ada banyak riff gitar yang unik. Riff yang groovy dan rockin metal, ada juga yang pop oriented. Ada percampuran yang pas antara distorsi dan akustik.  Suara gitar terdengar sangat fresh. Meskipun bukan sesuatu yang baru, tapi tetap baru untuk Dream Theater. Gitar solo juga sangat bervariasi yangs secara emosional mengingatkan kepada Falling Into Infinity dan Six Degrees of Inner Turbulence.

Porsi keyboard agak sedikit berkurang. Lebih banyak didominasi dengan pads, chords, atau piano. Tetapi Jordan tetap menunjukkan kemampuannya. Bahkan banyak menggunakan organ keyboards. Tetap ada unison dengan kecepatan tinggi, ribuan not keyboard solo yang sangat melodis, namun dibandingkan album-album terdahulu terasa lebih kurang. Namun, dengan berkurang porsi ‘gilanya’ Jordan tetap bersinar meskipun bukan dari sisi teknikal. Akan ada sebuah permainan piano yang sangat berkesan. Terutama bagian drum stick dengan jazzy piano.

Vokal, terasa seperti banyak yang bisa ditambahkan. Lebih terasa kurang melodis. Bahkan terkadang terasa lebih seperti background dibanding instrumen lain dan sedikit mudah ditebak. Namun dari apa yang didapat, James memberikan performa yang bagus. James tetap bersinar. Penamplan terbaiknya bisa didengarkan di Along For The Ride dan Illumination Theory. Sedangkan The Bigger Picture merupakan penampilan James terbaik di masa-masa ini.

Mangini menunjukkan kemampuan rhythm yang sangat mengesankan. Banyak sekali part-part yang dimainkan. Di sebuah groove yang heavy pun terdapat fill-fill kecil yang aneh. Jika digabungkan dengan kompleksitas musiknya akan semakin mengasah otak. Meskipun suara drumnya agak terasa sedikit mekanik.

John Myung kini mendapat banyak bagian untuk menampilkan kemampuannya. Ada bagian yang memang menonjolkan sisi bass. Surrender To Reason menjadi momen bagi Myung bahkan melebihi John Petrucci di bagian solo gitar.

Terjemahan ini akan disambung di lain waktu.

Bagi yang ingin membaca full reviewnya bisa mengunjungi http://www.dtnorway.com/2013/09/dream-theater-dream-theater-2013-english-review/

Analisa Lirik – Along For The Ride

Sebelumnya perlu disampaikan. Ini adalah tulisan pribadi, murni dari saya sebagai penulis di DTNews Indonesia ini. Memang tujuan utamanya agar tulisan ini bisa disebarkan. Namun sangat disayangkan akhir-akhir ini saya sering melihat tulisan saya sering dicopy paste ke media lain seperti facebook atau forum tanpa ada kredit penulis sama sekali. Bahkan mengklaim hasil tulisan sendiri. Untuk itu saya menghimbau untuk saling menghargai hasil tulisan seseorang. Silahkan saja jika tulisan-tulisan saya digunakan di media lain. Tetapi setidaknya menyertakan sumber.

ALONG copy

ALONG FOR THE RIDE

At this moment words fail me
And my vision’s unclear
Blind to the truth
Like hands reaching out in the darkness

I can’t stop the world from turning around
Or the pull of the moon on the tide
But I don’t believe that we’re in this alone
I believe we’re along for the ride
I believe we’re along for the ride

Through the gift of surrender
I’m embracing the fight
Breaking the code
There’s clarity on the horizon

I can’t stop the world from turning around
Or the pull of the moon on the tide
But I don’t believe that we’re in this alone
I believe we’re along for the ride
I believe we’re along for the ride

I will not live under a shadow of fear
Never be crippled by chaos and doubt
Fall prey to your madness

I am not shattered
Out of the ashes I rise
Knowing that nothing is stronger than faith
Finding hope in our hopeless lives

I can’t stop the world from turning around
Or the pull of the moon on the tide
But I don’t believe that we’re in this alone
I believe we’re along for the ride

I can’t stop the world from turning around
Or the pull of the moon on the tide
But I don’t believe that we’re in this alone
I believe we’re along for the ride
I believe we’re along for the ride
I believe we’re along for the ride

 

Menurut John Petrucci di wawancaranya bersama GRAMMY.com (http://www.grammy.com/news/a-ride-with-dream-theaters-john-petrucci) Lagu ini terinspirasi dari kejadian pengeboman di Boston yang terjadi pada saat penulisan lagu ini.

Di saat itu banyak berita, opini, dan pernyataan yang menyesatkan kita. Pandangan kita akan sesuatu seakan dibuyarkan. Buta akan kebenaran seakan meraih dalam kegelapan. Orang yang melakukan kejahatan di dunia ini memaksa dan menekan kita agar hidup penuh kecemasan. Kita menyadari apapun yang dilakukan orang-orang itu tidak akan mengubah pandangan hidup kita. Tidak akan menghancurkan kepercayaan kita. Kita tidak akan gentar, tidak akan mau hidup dalam ketakutan, kekacauan, dan keraguan. Dengan menyadari akan kekuatan keyakinan dan harapan dalam hidup kita. Kita memang tidak bisa mengendalikan semuanya di dunia ini. Kita tidak punya kendali akan kejadian-kejadian yang memprihatinkan. Namun kita harus percaya hal ini tidak akan menggoyahkan kepercayaan kita akan kebaikan dalam kemanusiaan. Dan kita percaya di dunia ini kita tidak akan sendirian menghadapinya. Karena banyak dari kita yang turut menginginkan kebaikan di dunia ini.

N.B Seperti lagu ini, saya tidak bisa mencegah tulisan ini disebar dan diklaim sepihak, tapi saya percaya akan kebaikan umat manusia yang ingin bergerak dalam kebenaran. Jika anda bisa mendukung hal ini saya percaya kita “along for the ride”

Artwork Booklet Album Dream Theater 2 (1/3)

 

 

 

 

 

Sudah muncul lagi 1/3 dari artwork baru untuk booklet album Dream Theater.

art4

James dan John Mendeskripsikan Lagu-Lagu Di Album “Dream Theater”

jp

Dalam sebuah wawancara, James LaBrie dan John Petrucci menjelaskan mengenai masing-masing lagu di album baru “Dream Theater”. Berikut adalah penjelasannya.

False Awakening Suite : Lagu yang cinematic dan berasa seperti dalam sebuah film

The Enemy Inside : John menginginkan adalah agu yang tempo cepat, heavy, teknikal.

The Looking GlasS : Lagu ini merupakan salah satu dari 2 lagu yang memiliki nuansa yang berbeda dengan lagu-lagu yang lain di album ini. John mendeskripsi lagu ini sebagai “Arena rock dengan gitar riff yang kuat”. Liriknya mengenai anak muda yang sangat terobsesi dengan ketenaran.

Enigma Machine : Lagu instrumental dimana mereka ingin menunjukkan masing-masing instrumen sebagai solois. Selain gitar dan keyboard, akan ada bass dan drum solo. John menjelaskan lagu ini memiliki nuansa musik dari film genre spy. Karena itu lagu ini dinamain Enigma Machine. Sebuah mesin yang digunakan tentara jerman dalam membaca pesan selama perang.

The Bigger Picture :  Klasik, progressif, indah, dengan element pop. Menurut John terdapat penampilan vokal terbaik dari James dan dia sangat bangga dengan lagu ini.

Behind The Veil :  Jordan menggunakan seaboard sebagai intro dan disambung dengan riff all Megadeth/Metallica namun tetap ada chorus yang megah. Gitar solo di lagu ini merupakan yang paling disukai John.

Surrender To Reason : Lagu pertama yang ditulis di album ini dan liriknya ditulis oleh John Myung. Memiliki riff yang sangat mudah dikenal dan chorus pembuka yang apik. Gitar solonya sangat “in your face” dengan nuansa pub.

Along For The Ride : Salah satu lagu yang bernuansa berbeda. Akan menjadi “lagu kebangsaan” baru bagi dream theater yang bisa membuat penonton di saat live ikut bernyanyi bersama.

Illumination Theory :  Lagu epic terbesar. Mereka hampir menggunakannya sebagai judul album. Lagu yang panjang yang membawa pendengar ke bermacam emosional. Di bagian tengah sangat atmosferis tanpa instrumen sama sekali. Eren Basbug sebagai konduktor untuk bagian string orchestra.

Penjelasan lebih lengkap bisa dilihat di video di bawah ini.

Analisa Lirik – The Ministry Of Lost Souls

 

The water’s edge is where she waits
Lost souls still wandering
Meant to die
But she’s stuck not crossing over

The other side is where he waits
His spirit reaching out
Meant to save
But she’s too scared to take his hand

Living in a world without you
Drowning in the past
Is living in no world at all
So now I call on you

Remember me? I gave you life
You would not take it
Your suffering was all in vain, it’s almost over now
Don’t turn your back on paradise

Feeling scared, she’s prepared
To give up everything
She can’t stand to feel
Like half of her is fading

He will choose the only way
To rid her of her pain
Take her soul now
The decision has been made

Living in a world without love
A burden to my soul
Is living in a worthless world
So I will call on you

Remember me? I gave you life
You would not take it
Your suffering was all in vain
It’s almost over

Remember me? You were so young
How could I tell you?
Remember me? I am the one
Who saved your life that night

I was the one who would not abandon you
Even in death I was the one who would not leave you
I used my freedom to protect you
And all the while direct you

Do you remember me this time?
Even in death I gave you life, I gave you life

Wanted to deserve a place
A place beside you
This time when I reached out my hands
It reached all the way to heaven

Remember me? I gave you life
You would not take it
Your suffering was all in vain
It’s almost over now, goodbye
It’s almost over now, goodbye

It’s time
I release you from this life
Don’t turn your back on paradise

 

Ditepi air, Jiwa seorang wanita yang telah meninggal masih bergentayangan. Jiwanya seperti tersesat, dia tidak bisa pergi ke alam lain seakan ada yang menjadi beban baginya. Dari sisi lain muncul seorang pria. Jiwanya menghampiri dan menjemputnya. Namun sang wanita sangat takut untuk meraih tangan.

Sang pria mengenali siapa wanita itu. Dia pernah bersama sang wanita, namun telah lama tewas tenggelam. Dia merasa tidak ingin berada di alam lain tanpa sang wanita itu. Dia mulai mengingatkannya. Bahwa dia pernah pernah menyelamatkan sang wanita dulu. Penderitaan sang wanita akan segera berakhir.

Sang wanita meskipun takut, dia sudah siap. Dia tidak tahan melihat tubuhnya yang mulai menghilang. Sang pria yang tidak ingin melihatnya menderita lagi harus mengambil keputusan untuk mengambil jiwa sang wanita. Sang pria kembali mengingatkan siapa dirinya. Dia pernah menyelamatkan sang wanita disaat wanita itu masih muda. Namun akibatnya sang pria itu tewas. Dia mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan sang wanita. Kemungkinan besar sang pria itu adalah ayahnya. Disaat sudah meninggal pun jiwanya yang menjemput sang wanita. Dia ingin bersatu kembali bersama sang wanita. Akhirnya mereka bersama melangkah ke akhirat.

Flying Colors : The Storm | Live Video

Lagi-lagi salah satu side project Mike Portnoy, Flying Colors akan merilis DVD Live In Europe pada tanggal 14 Oktober. Grup ini beranggotakan Portnoy bersama Neal Morse, Steve Morse, Casey McPherson, dan Dave Larue. Baru saja grup ini merilis klip penampilan mereka di DVD ini dengan lagu The Storm. Videonya bisa dilihat di bawah ini.

FLYING COLORS : LIVE IN EUROPE TRACKLIST

Blue Ocean
Shoulda Coulda Woulda
Love Is What I’m Waiting For
Can’t Find A Way
The Storm
Odyssey
Forever In A Daze
Hallelujah
Better Than Walking Away
Fool In My Heart
Spur of the Moment
Repentance
June
All Falls Down
Everything Changes
Infinite Fire

Info Pre-Order http://flyingcolors.mlgmerch.com/

 

John & James Menjawab Pertanyaan Bagian 2

Album ke 4 Transatlantic (2014)

trans

Transatlantic, side project Mike Portnoy bersama Neal Morse (ex-Spock’s Beard), Roine Stolt (The Flower Kings), dan Pete Trewavas (Marillion) akan segera merilis album ke-4 di tahun 2014. Grup ini sempat bubar dikarenakan Neal Morse yang pada saat itu sangat fokus ke musik rohani. Setelah kembali dengan album terakhir “The Whirlwind” yang merupakan album dengan 1 lagu sepanjang 77 menit, kini mereka kembali lagi untuk album ke-4. Bulan April 2013 keempat musisi ini kembali ke studio di Nashville. Tanggal 30 Mei 2013, Mike Portnoy mengumumkan mereka telah selesai menulis materi untuk album ke-4.

trans2

trans1

Menurut Portnoy, album ke-4 Transatlantic akan terdiri dari 5 lagu. 2 lagu berdurasi panjang (epic) dan 3 lagu berdurasi normal. Ditambah 8 lagu cover untuk disc bonus.

Roine menjelaskan dia mengalami 10 hari masa penulisan album yang menyenangkan dan juga menegangkan bersama beberapa rekan musik terbaiknya. Untuk album ini pendengar akan merasakan bukan hanya yang terbaik dari prog melodik tetapi juga musik atonal dan odd time yang sangat intens.

1 September 2013, di akun facebooknya Mike Portnoy mengumumkan Transatlantic akan membuat video musik. Ini adalah video musik pertama kali buat Transatlantic. Di bawah merupakan beberapa foto kondisi pengambilan gambar video.

 

trans4

trans5